Pada kesempatan kali ini, tanamanbuah.com akan memberikan tips untuk tanaman jagung manis agar tumbuh subur dan berbonggol besar meskipun dengan biaya produksi yang minimal. Dengan teknik rotasi tanam dan fokus pada kesuburan tanah, kita akan mendapatkan hasil panen yang maksimal. Untuk lebih detailnya mari kita ulas sebagai berikut.

Pengertian dan Peran Rotasi Tanaman

Setiap famili tanaman umumnya memiliki jenis hama dan juga penyakit yang hampir sama juga. Misalnya tanaman tomat itu memiliki jenis hama dan juga penyakit yang mirip mirip dengan tanaman cabe dan juga tanaman terong. Jadi melalui rotasi tanaman dengan jenis famili lainnya, maka siklus hama dan juga penyakit yang menyerang pada periode sebelumnya itu akan terputus.

Tanaman Jagung Manis

Tanaman Jagung Manis

Sebagai contoh tanaman cabe itu biasanya terkena serangan Antraknosa. Maka ketika kita rolling atau kita rotasi dengan tanaman jagung, maka jagung itu tidak akan terkena penyakit antraknosa. Artinya siklus antraknosa-nya jadi terputus. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa rotasi tanaman ini wajib dilakukan untuk memutus siklus hama maupun juga siklus penyakit.

Perbaikan Kesuburan Tanah

Faktor kesuburan tanaman diawali dengan tanah yang baik juga. Tanah itu adalah tempat atau media tanaman itu hidup. Ibaratnya sebuah rumah yang nyaman ditinggali otomatis sang pemilik rumah atau yang tinggal di rumah tersebut juga hidup bahagia. Nah, kalau tanaman itu kita sediakan rumah (media tanah) yang bagus, maka pertumbuhan tanaman tersebut juga akan tumbuh subur dan optimal. Untuk mencapai pertumbuhan optimal kita juga harus menambahkan pupuk dasarnya.

Cara Mengelola Kesuburan Tanah

Sebelum tanah ditutup mulsa kita bisa menetralkan tanah terlebih dahulu (PH 6,5 sampai 7) dengan pemberian kapur dolomit. Dolomit secara pengertiannya adalah mineral yang mengandung unsur kalsium oksida dan juga magnesium oksida dengan kadar ya tinggi sehingga dia dapat meningkatkan atau menetralkan keasaman tanah. Bahkan dolomit juga dapat menetralisir racun yang ada di dalam tanah.

Proses pemberian dolomit itu dilakukan bersamaan setelah proses pengolahan tanah. Dolomit diberikan dengan cara kita tabur pada bedengan sesuai dengan dosisnya. Kalau tidak ada kapur dolomit maka anda bisa menggunakan kapur tohor atau kapur bangunan, bedanya kapur tohor / bangunan itu lebih banyak kandungan kalsiumnya. Sedangkan dolomit itu mengandung kalsium dan magnesium. Perlu diperhatikan bahwa sebelum pemberian kapur dolomit harus dilakukan pengecekan PH terlebih dahulu menggunakan PH meter.

Pemberian Kompos

Tips selanjutnya dalam memelihara keseburan tanah adalah memaksimalkan pemberian kompos pada media tanam/tanah. Kalau diganti dengan kotoran hewan, boleh-boleh saja akan tetapi harus didiamkan beberapa saat sebelum diaplikasikan ke lahan pertanian anda.

Kompos atau kotoran hewan itu digunakan untuk memperbaiki sifat fisik dan juga sifat biologi tanah. Sifat fisik disini maksudnya adalah perbaikan dalam hal teksturnya, kegemburan tanah dan perubahan warna tanah. Sedangkan memperbaiki sifat biologi adalah memaksimalkan lagi dalam kehidupan terutama organisme dan juga mikroorganisme didalam tanah pertanian kita.

Didalam tanah ada jutaan bahkan miliaran mikroorganisme yang melakukan proses dekomposisi atau pelapukan bahan organik sebagai sumber makanannya. Hasilnya, lahan yang terdapat mikroorganisme ini akan menjadi subur, gembur dan juga kaya akan unsur hara dari hasil pelapukan itu sendiri.

Pemberian Pupuk Dasar

Masih banyak para petani yang tidak memperhatikan bahkan sampai kelupaan tentang pupuk dasar, padahal inilah rahasia utama tanaman bisa tumbuh subur atau tidak. Penggunaan pupuk kandang bisa dari kotoran ayam atau kotoran sapi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan berikut ini adalah tabel penjelasannya:

Tabel Unsur Hara

Tabel Unsur Hara

Berdasarkan tabel diatas, kotoran ayam itu mengandung 1,72% nitrogen, 1,82% fosfor dan 2,18% kalium. Sedangkan kotoran sapi ternyata memiliki kadar nitrogen yang lebih tinggi yaitu kisaran 2,04%. Sementara fosfor dan kaliumnya itu lebih rendah yaitu 0,76% fosfor dan 0,82% kalium. Kenapa kotoran sapi itu lebih tinggi nitrogen-nya? Karena sapi itu makan rumput dan dedaunan itu pada dasarnya memiliki kandungan nitrogen di dalamnya. Maka kotoran sapi itu tinggi kadar nitrogen-nya.

Pemberian Pupuk Slow Release

Tahapan selanjutnya, beberapa hari sebelum kita pasang mulsa, maka kita bisa kasih pupuk yang sifatnya slow rilease atau disebut juga dengan pupuk yang lepas-nya lambat. Misalnya pupuk TSP, SP36, Rock Fosfat atau Fertiphos. Pupuk jenis slow release ini butuh waktu supaya dapat terserap oleh tanaman. Untuk itu pupuk jenis ini bagus dijadikan pupuk dasaran. Sehingga ketika nanti tanaman kita sudah mulai ditanam dan kemudian sudah mulai tumbuh agak besar, maka unsur fosfor atau fosfat itu sudah bisa tersedia di dalam tanah. Sehingga bisa diserap oleh tanaman kita pada saat masa pertumbuhan.

Dengan menerapkan tips diatas, diharapkan tanaman jagung akan terhindar dari hama dan penyakit serta mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal.

Baca Juga : Manfaat Unsur Hara Kalium Bagi Tanaman