Sebelum kita membahas tata kelola lahan gambut, mungkin ada banyak para planter/petani Indonesia itu bertanya-tanya apa sih bedanya gambut sama rawa. Bedanya adalah kedalaman timbunan bahan organiknya. Dimana beberapa literatur menyatakan bahwa kedalaman bahan organik dibawah 50 cm maka lahan tersebut diberikan nama Rawa, sementara di atas 50 senti itu adalah sudah masuk dalam kategori gambut.

Lahan Gambut di Kelapa Sawit

Lahan Gambut di Kelapa Sawit

Faktor Pengelolaan Lahan Gambut

Pengelolaan gambut ini sangat membutuhkan extra pemikiran dan pekerjaan yang sangat luar biasa keras. Karena di dalam gambut ini memiliki faktor pembatas yang banyak. Faktor pembatas gambut yang pertama adalah air. Faktor air ini sangat luar biasa karena bahwa pengelola gambut akan berhasil jika mampu mengendalikan airnya. Salah satu pengendalian air di dalam gambut yaitu pintu airnya. Karena dengan adanya tumpukan bahan organik ini disebabkan adanya air, dan seiring berjalannya waktu air mengatus ataupun air mengalir ke bawah, maka gambut ini akan mudah terbakar.

Cara Pengelolaan Lahan Gambut

Bagaimana mengantisipasi gambut agar tidak mudah terbakar namun juga tidak banjir. Ini merupakan sebuah tantangan besar dalam pengelolaan gambut. Maka kunci pengelolaan air di gambut adalah memiliki kedalaman dari permukaan nya kita jaga agar jangan sampai kurang dari 60 cm. Di dalam parit-parit kita akan diberikan ketinggian air dari permukaan nya. Bahwa airnya dijaga dan dipertahankan di debit 60 cm. Kenapa kita harus menjaga ketinggian air di lahan gambut ?

  1. Faktor yang pertama adalah pengendalian air. Jangan sampai pada musim kemarau gambut kita ini sangat-sangat kering. Kalau sampai kering sekali maka gambut ini akan mudah terbakar. Karena tumpukan bahan organik kering akan mudah terbakar. Tapi begitu hujan, tanpa adanya pengendalian menggunakan pintu air, juga akan menjadi faktor pembatas panen, faktor pembatas perawatan sampai faktor pembatas pertumbuhan tanaman.
  2. Dalam faktor pembatas gambut selanjutnya adalah asam. Ketika kita berbicara tentang asam maka satu hal yang harus dilakukan para petani Indonesia adalah bagaimana sistem pengaturannya. Maka hukumnya wajib di dalam sistem gambut kita adalah aplikasi kapur ke dalam sistem pertanaman kita setahun sekali. Baik menggunakan calcium karbonat ataupun kaptan. Ataupun menggunakan kalsium magnesium karbonat ataupun dolomit dengan angka yang tidak sedikit. Ini adalah salah satu pengendalian asam.

    Sebagai contohnya, di sungai rumbia satu, Sumatera Utara, sampai dengan hari ini potensi produksinya adalah angkanya yang paling rendah 20 ton per hektar per tahun dan angka tertinggi nya adalah 29 ton per hektar per tahunnya. Angka yang masih di dalam keuntungan yang luar biasa bagi para petani. Maka jangan tanggung-tanggung ketika kita sudah terjun dalam memelihara gambut ini. Yang pertama kendalikan airnya dan kedua adalah kurangi faktor pembatas keasamannya.

  3. Faktor ketiga adalah tumpukan bahan organik. Tumpukan bahan organik ini memiliki kriteria Fibris = mentah, Hemis = menengah dan Sapris = matang. Artinya bahwa gambus itu ada gambus mentah, sedang dan matang. Dimana dalam tiga pengelolaan ini akan berbeda-beda. Seperti yang ada di gambar dibawah ini adalah sebuah tanaman kelapa sawit yang terkulai.

    Kelapa Sawit Terkulai di Lahan Gambut

    Kelapa Sawit Terkulai di Lahan Gambut

Baca Juga: Cara Menanam Anggur di Pot

Sifat Lahan Gambut

Kenapa bisa terkulai ? karena memang faktor pembatas gambut ini adalah medianya itu sendiri. Karena memang gambut ini adalah bahan organik yang tertumpuk gara-gara sebuah timbunan, diatuskan airnya, dan sekarang bisa kita tanaman dengan sistem pertanaman seperti ini. Namun gambut tidak memiliki ikatan / kohesi antar partikel gambutnya. Sehingga gambut ini ya kayak seperti gambar diatas, kita tanam dia akan roboh. Tidak ada gambut satu pun dalam penanaman kelapa sawit itu tidak roboh. Yang paling penting adalah penangananya. Apakah menggunakan sistem tapak kuda, ataukah dengan sistem penambahan perakaran dll. Itu harus segera dilakukan untuk mengantisipasi kematian dari pokok akibat tumbang karena ketidakmampuan gambut dalam menopang berat dari sebuah pertanaman kelapa sawit kita.

Nah itulah beberapa faktor kunci dalam pengelolaan lahan gambut. Ingat penanaman di lahan gambut akan selalu roboh. Maka hindari ketinggian air dibawah kurang dari 60 centi. Artinya bahwa kalau paritnya kosong, maka siap-siap hal yang tidak terduga akan terjadi yaitu Subsiden atau penurunan muka gambut karena pematangan gambut.

Nanti juga akan saya bahas sistem kimianya di lahan gambut ini pada postingan berikutnya hanya di www.tanamanbuah.com. Semoga berkenan bagi para planters Indonesia. Tetap semangat bahwa gambut bukan berarti tidak ada harapan, yang paling penting adalah bagaimana cara pengelolaan yang benar supaya tidak merugikan alam tapi memberikan keuntungan baik bagi kita para petani dan bagi masyarakat seluruhnya.