Salam planter Indonesia, kali ini kita akan bicara membahas tuntas tentang bagaimana pemupukan kalium klorida atau KCL alias MOP. Jadi KCL dan MOP itu sebenarnya sama cuman beda namanya saja. KCL merupakan pupuk yang sampai saat ini Indonesia masih impor dari luar negeri karena memang terbuat dari batuan feldspar yang di Indonesia memang relatif sedikit. Kemudian KCL ini merupakan salah satu pupuk yang utama di dalam menunjang produksi kelapa sawit, karena diberikan 2 kali setahun.

Pupuk KCL ini memiliki karakteristik berwarna pink ataupun merah ada yang agak kasar ada agak halus, tergantung dari merek masing-masing produknya. KCL ini memiliki kandungan adalah 60% kalium oksida atau 60% K2O. Oleh sebab itu, yang perlu diperhatikan di dalam pemupukan KCL ini adalah pertama yang kita bahas adalah bentuk pupuknya.

Pupuk KCL

Pupuk KCL

Pupuk yang bagus adalah masih dalam bentuk kristal (karena dia memang ikatannya garam) maka dalam kondisi yang kering / remah itu dia tidak menggumpal. Maka dalam waktu tertentu, karena dia bentuknya garam, maka sering menggumpal. Dan kalau dalam keadaan menggumpal, maka aplikasinya susah. Sehingga dilakukan sebagus mungkin di dalam penggunaan KCL ini. Angka KCL yang digunakan pertanaman kelapa sawit juga akan berbeda seiring bertambah umurnya.

Baca Juga : Jenis Tanah Perkebunan Kelapa Sawit

Sebagai contoh, kita mempunyai kelapa sawit umur 5 tahun 9 bulan pada saat ini. Maka membutuhkan KCL dengan dosis adalah 1,5 Kg per pokoknya. Sehingga pemupukannya harus sedemikian rupa. Ketika kita melakukan pemupukan seperti yang kita bahas terdahulu yaitu bagaimana kita mengumpulkan setipis mungkin satu partikel tanah bertemu dengan 1 partikel pupuk sehingga mudah terserap. Dan ingat, bahwa karyawan biasanya akan melakukan dengan sangat cepat. Oleh sebab itu penting bagi para planters untuk memperhatikan kualitas teknis, yaitu bagaimana membuat pupuk ini tertebar sempurna sehingga satu partikel tanah bertemu dengan satu partikel pupuk itu akan terserap sempurna oleh perakaran tanaman kita.

Sekali lagi bawa KCL adalah salah satu penopang produksi kita. Ketika kita mau memupuk dengan KCL tetapi tidak sempurna, maka jangan berharap perakaran akan menyerapnya dengan kondisi produksi yang sempurna. Maka ketika memupuk apalagi dia berbahan dasar garam, urea, atau KCL, maka harus dilakukan pengawasan yang detil. Jangan sampai kita hanya memberikan kepercayaan begitu saja tanpa sebuah evaluasi. Karena kalau tidak dilakukan pengawasan detil dalam pemupukan itu, maka pupuk KCL non subsidi yang harganya relatif mahal ini bisa saja tidak efektif dan hanya menghabiskan biaya saja.

Sehingga pemupukannya harus sempurna supaya tanaman kita pertumbuhannya sempurna. Kalau tidak sempurna jelas kita tidak usah membahas produksi. Sementara kita menanam kelapa sawit ini tujuannya berharap produksi. Dan ingat, pemupukan yang bagus adalah kelang dari perawatan piringannya. Jangan pernah dipaksakan kita memupuk dalam kondisi semah (kondisi banyak gulma berbuah) yang berarti serapan kalium untuk pembentukan buah si gulma juga semakin besar. Maka akan menjadi persaingan antara kelapa sawit dan gulma tersebut.

Gulma Melastoma SP

Gulma Melastoma SP

Maka pemupukkan yang bagus adalah sudah melakukan perawatan piringan dengan sebagus mungkin. Dengan ditebar secara sempurna kita berharap tanaman akan menyerap secara sempurna dan produksi kita juga tentunya sempurna.

Demikian planters, postingan hari ini mengenai prinsip dasar pemupukan KCL pada kelapa sawit dan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan agar produksi kita bagus dan meningkat.