Salam planter Indonesia, pada postingan kali ini kita akan membicarakan tentang seperti apa gambut anda. Gambut adalah sebuah lahan yang tersusun dari bahan organik dimana secara teoritis adalah tumpukan bahan organik yang ketinggiannya atau kedalamannya adalah lebih daripada 50 cm. Kurang dari 50 cm dinamakan rawa. Kali ini kita akan membicarakan gambut yang kedalamannya lebih dari 50 cm.

Gambut terbentuk akibat adanya tumpukan bahan organik karena ada faktor alam yang salah satu faktornya adalah rendaman atau faktor air. Dimana bahan organik pada kondisi tergenang relatif lama terjadi komposisi sehingga terakumulasi menjadi satu dan terbentuk gambut.

Jenis Lahan Gambut

Jenis Lahan Gambut

Pengkelasan Lahan Gambut

Di dalam pengkelasan gambut yang kita tanami sebagai lahan kelapa sawit yang merupakan alternatif pada saat ini, karena semakin berkurangnya luasan lahan mineral. Maka kita akan membudidayakan kelapa sawit di dalam lahan gambut. Lahan gambut sendiri dibagi menjadi 3 yaitu berdasarkan kematangan. Di mana berdasarkan kematangannya ini dibagi menjadi tiga yaitu gambut mentah atau fibris, gambut sedang adalah hemis dan gambut yang sudah matang disebut sapris.

Kita akan bahas satu persatu, tapi sebelumnya ada juga penggolongann gambut berdasarkan faktor ombrogen (terpengaruh karena curah hujan) dan topogen (relatif cenderung tidak tergenang secara permanen).

Karakteristik Lahan Gambut

Karakteristik Lahan Gambut

Faktor Kematangan Gambut

Kali ini kita akan membahas tentang kematangan gambut karena akan berpengaruh terhadap kesuburan gambut itu sendiri.

  1. Fibris. Fibris adalah gambut mentah di mana CN rasionya adalah lebih daripada 30 angkanya. Maka sebenarnya Fibris ini tidak memiliki angka kesuburan yang cukup. Kemudian fibris yang mentah terjadi tanpa perombakan atau belum terombak atau bisa juga baru mulai terombak. Akibatnya CN rasio memiliki angka 30%.

    Kemudian warna dari gambut fibris itu sendiri adalah berwarna kekuning-kuningan ataupun warna kuning atau putih kekuningan. Perlu diketahui bahwa gambut tidak selalu berwarna coklat. Di dalam teorinya Van Post bahwa gambut itu memiliki 10 tingkatan warna.

  2. Hemis. Hemis memiliki nisbah / rasio CN antara 15-30%. Dimana hemis ini adalah merupakan gambut setengah matang. Mempunyai karakteristik warna kecoklatan maupun hitam kecoklatan.
  3. Sapris. Sapris merupakan gambut yang sudah matang, dimana CN rasionya dibawah 15%. Yang mempunyai karakteristik warna kehitaman dan relatif lebih stabil.

Resiko Lahan Gambut Berdasarkan Kadar Kematangan

Ada beberapa resiko yang harus ditanggung ketika kita menanam di dalam lahan gambut yang memiliki kadar kematangan yang berbeda-beda ini. Jika anda menggunakan gambut fibris, maka semakin mentah gambut yang kita gunakan resiko tumbang jauh lebih cepat. Kenapa?

Karena gambut memiliki sifat irreversible yang artinya adalah tidak balik. Dimana gambut apabila bahan organik ini sudah mengalami pengeringan, pemanfaatan yang luar biasa, maka dia tidak balik. Apalagi gambut itu mentah, maka ketika perombakan dia akan mudah turun. Sehingga menyebabkan kelapa sawit menjadi nangkring.

Perlu diketahui bahwa gambut yang mentah ini mudah mengalami penurunan muka tanah / subsidence. Pengeringan gambut yang berlebihan akan membentuk sifat irreversible, sehingga mampat dan tidak tidak mampu menyerap air lagi. Resikonya akan terjadi penurunan leveling gambut.

Maka penting bagi kita para planters untuk mengetahui karakteristik gambut kita. Gambut yang kita tanami akan membawa dampak kelapa sawit yang kita budidayakan. Gambut yang mentah, sedang ataupun yang matang memiliki respon potensi produksi yang berbeda-beda.

Gambut yang memiliki kedalaman diatas 3 meter adalah gambut yang tidak direkomendasikan untuk budidaya kelapa sawit. Dimana kita harus melakukan penghutanan kembali di daerah itu sendiri.

Semoga memberikan manfaat dan berguna bagi para planters dalam mengenali karakteristik lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit.

Baca Juga : Sistem Pengelolaan Lahan Gambut